Dari Gelap Menuju Terang: Civitas Akademika STIPAR Ende Gelorakan Pertobatan Intelektual & SpiritualHedwin Pati_Mahasiswa Stipar Ende
Dari Gelap Menuju Terang: Civitas Akademika STIPAR Ende Gelorakan Pertobatan Intelektual & Spiritual

Suasana hening menyelimuti Aula Mgr. Donatus Djagom, SVD, STIPAR Ende, Sabtu (28/03/2026). Bukan keheningan yang kosong, melainkan keheningan yang "berbicara". Di ruang itulah, segenap civitas akademika STIPAR Ende berkumpul dalam rekoleksi persiapan Paskah, mengusung tema yang menggugah: "Pertobatan Intelektual dan Spiritual: Mempersiapkan Hati Menyambut Kebangkitan."


Rekoleksi yang dibawakan oleh RD. Patrisius Due ini tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan menjelang Pekan Suci. Lebih dari itu, acara ini dirancang sebagai ruang refleksi kritis mengajak mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk tidak hanya "merayakan" Paskah, tetapi sungguh-sungguh "mengalami" Paskah dalam dimensi personal dan komunal.


Dalam paparannya, RD. Patrisius Due menekankan bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada perubahan perilaku luar, tetapi menuntut pembaruan radikal dalam cara berpikir (metanoia intelektual) dan kedalaman hati (metanoia spiritual).


Menurutnya, Paskah bukan hanya peristiwa liturgis yang kita tonton. Paskah adalah undangan untuk bangkit dari cara pikir yang sempit, dari hati yang mengeras, dari kebiasaan yang membelenggu.


Tema "pertobatan intelektual" menjadi sorotan khusus. Dalam konteks pendidikan tinggi bernuansa pastoral, hal ini mengajak mahasiswa untuk meninjau ulang cara mereka memahami Tuhan, menafsirkan Kitab Suci, dan merespons realitas sosial. Sementara "pertobatan spiritual" mengajak setiap pribadi untuk kembali pada inti iman: relasi personal dengan Kristus yang bangkit.


Salah satu momen paling menyentuh dalam rekoleksi adalah sesi hening (silent retreat). Di tengah keheningan yang disengaja, peserta diajak melakukan dialog batin, mengakui luka, menyadari kesalahan, dan memohon rahmat untuk berubah.


Sesi pemeriksaan batin (examen) menjadi puncak dari proses introspeksi ini. Dengan dipandu RD. Patrisius, peserta diajak mengenali "jejak-jejak Tuhan" dalam keseharian mereka, sekaligus menyadari area-area hidup yang masih perlu diperbarui.


Rekoleksi ditutup dengan komitmen bersama: menyambut Paskah bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai awal kehidupan baru. Seperti ditekankan dalam renungan penutup, kebangkitan Kristus adalah jaminan bahwa perubahan itu mungkin bahkan bagi yang merasa paling jauh.

"Semoga Kristus yang bangkit menerangi pikiran kita, menghangatkan hati kita, dan membangkitkan kita menjadi pribadi baru. Mari menyambut Paskah dengan hati yang diperbaharui."

Di tengah dinamika dunia yang serba cepat dan penuh tantangan, rekoleksi seperti ini menjadi "jeda suci" yang diperlukan. Bagi calon-calon pemimpin gereja dan masyarakat yang dididik di STIPAR Ende, pertobatan intelektual dan spiritual bukan hanya kebutuhan pribadi, melainkan fondasi pelayanan yang autentik.


"Gereja membutuhkan pelayan yang tidak hanya pintar, tetapi juga kudus; yang tidak hanya tahu, tetapi juga mengasi; yang tidak hanya berbicara tentang kebangkitan, tetapi telah mengalaminya."


Dengan semangat itulah, civitas akademika STIPAR Ende melangkah menuju Pekan Suci bukan dengan tangan hampa, melainkan dengan hati yang telah disentuh oleh Terang Paskah.



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)