Prapaskah KAE, Uskup bagi Keluarga dan Liturgi Kosmik
Prapaskah KAE, Uskup bagi Keluarga dan Liturgi Kosmik

Prapaskah KAE, ‘Uskup bagi Keluarga’ dan ‘Liturgi Kosmik’  


Anselmus Dore Woho Atasoge

Masa Prapaskah dalam tradisi Kristiani selalu identik dengan momentum jeda untuk menata ulang arah hidup. Tahun ini, Keuskupan Agung Ende melalui Surat Gembala Prapaskah 2026 yang ditulis oleh Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, SVD, membawa pesan yang sangat membumi. Fokusnya adalah "Gerakan Orangtua Peduli Anak Usia Dini". Sebuah ajakan yang menempatkan keluarga sebagai garda terdepan dalam merawat kehidupan dan menjaga masa depan Gereja maupun bangsa.

 

Pilihan fokus ini bukanlah tanpa alasan. Masa usia dini, mulai dari dalam kandungan hingga usia enam tahun, merupakan "masa emas" pembentukan manusia. Di fase inilah fondasi iman, karakter, kecerdasan, dan kepekaan sosial diletakkan. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi anak-anak kian kompleks, mulai dari persoalan gizi hingga pengaruh teknologi yang menggerus relasi manusiawi.

 

Pendidikan anak sering kali terjebak dalam pendangkalan makna ketika tanggung jawab luhur tersebut direduksi sebatas pelunasan kewajiban finansial atau administrasi sekolah. Fenomena ini menciptakan jarak emosional yang lebar, seolah-olah tugas membentuk jiwa dapat didelegasikan sepenuhnya kepada institusi formal. Padahal, rumah merupakan rahim spiritual dan moral yang tak tergantikan, sebuah "Gereja mini" di mana setiap sudutnya harus memancarkan kasih Tuhan. Di dalam kehangatan ruang keluarga inilah, anak-anak seharusnya pertama kali mengecap rasa aman, mempelajari kejujuran dari keteladanan, dan mengenal wajah Allah melalui tutur kata serta pelukan hangat orangtua yang penuh kasih.

 

Gagasan mengenai keluarga sebagai pusat pertumbuhan iman ini sejalan dengan pemikiran Santo Agustinus, yang menegaskan bahwa setiap orangtua memegang ‘jabatan gerejawi’ di dalam rumah mereka sendiri. Bagi Agustinus, ayah dan ibu adalah "uskup" bagi keluarga mereka, yang dipanggil untuk menggembalakan, mendidik, dan menjaga jiwa anak-anak agar tetap berpaut pada kebenaran Ilahi (Sermon 94, paragraph 7. Lihat pula In Evangelium Iohannis tractatus centum viginti quattuor) khususnya pada Traktat 51, 13). Dengan menempatkan rumah sebagai episentrum pendidikan, orangtua tidak lagi memandang kehadiran anak sebagai beban biaya, melainkan sebagai ‘perjumpaan sakramental’ yang menghadirkan Kerajaan Allah di dunia. Melalui refleksi ini, pendidikan kembali pada hakikatnya. Ia menjelma menjadi sebuah perjalanan bersama untuk menuntun generasi muda menemukan martabat mereka sebagai citra Allah yang mulia.

 

Dalam surat gembalanya, Mgr. Budi  mengingatkan bahwa selain kemiskinan material, kita sedang menghadapi "kemiskinan relasi". Anak-anak kerap mengalami kekurangan pendampingan emosional dan komunikasi yang hangat di dalam rumah. Ketergantungan pada gawai (smartphone) hingga kekerasan verbal dan fisik dalam keluarga menjadi luka yang harus segera disembuhkan melalui pertobatan konkret. Kehadiran orangtua secara utuh, tidak berhenti pada kehadiran fisik, menjadi kunci utama tumbuh kembang anak yang sehat.

 

Bagi Mgr. Budi, kepedulian terhadap anak sejatinya merupakan sebuah komitmen utuh yang harus menyentuh aspek lingkungan dan ekonomi secara mendalam. Kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa anak-anak yang lahir hari ini akan mewarisi bumi yang sedang menderita akibat krisis ekologis yang kian mengkhawatirkan. Dalam situasi ini, orangtua dipanggil untuk menjadi pendidik ekologi pertama yang menanamkan kesadaran bahwa merawat alam adalah bagian tak terpisahkan dari pengakuan iman. Melalui pembiasaan sederhana di rumahnseperti memilah sampah, menanam pohon di halaman, hingga penghematan energinorangtua sedang membangun benteng pertahanan terakhir demi memastikan "rumah bersama" ini tetap layak huni bagi generasi mendatang.

 

Gagasan mengenai pendidikan ekologi sebagai tindakan iman ini selaras dengan visi teologis Teilhard de Chardin, yang memandang seluruh alam semesta sebagai ‘tubuh Kristus’ yang sedang berproses menuju kesempurnaan. Bagi De Chardin, setiap tindakan manusia dalam merawat dunia tidak berhenti pada upaya ekologis biasa, melainkan partisipasi aktif dalam karya penciptaan Allah yang terus berlanjut. Dengan mengajarkan anak-anak untuk mencintai bumi, orangtua sedang menuntun mereka untuk mengenali kehadiran Ilahi di dalam setiap helai daun dan tetesan air. Pendidikan ekologi di dalam keluarga akhirnya bertransformasi menjadi sebuah "liturgi kosmik", di mana setiap upaya pelestarian alam menjadi bentuk persembahan syukur yang menjaga keberlangsungan hidup seluruh ciptaan.

 

Di sisi lain, kesejahteraan anak sering kali terancam oleh struktur ekonomi yang menjerat. Maraknya praktik rentenir dan koperasi harian dengan bunga tinggi di wilayah Keuskupan Agung Ende (tentu tak terbebaskan pula dalam keuskupan lain di wilayah Flores dan NTT) telah menciptakan kecemasan dalam rumah tangga. Ketika ekonomi keluarga terguncang, anak-anaklah yang pertama-tama menjadi korban melalui kekurangan gizi dan hambatan pendidikan.

 

Sebagai solusi, Gereja mendorong pembangunan ekonomi alternatif yang lebih manusiawi. Literasi keuangan, penguatan koperasi kredit yang solider, serta keberanian untuk meninggalkan gaya hidup konsumtif melalui penyederhanaan pesta-pesta adat merupakan wujud nyata dari pertobatan sosial.

 

Pesan Prapaskah 2026 ini menggemakan sebuah simfoni kepedulian bahwa merawat tunas muda bukan sebuah aksi nyanyian sunyi di balik pintu rumah, melainkan sebuah kidung bersama di tengah pelataran umat. Melalui Komunitas Umat Basis (KUB), setiap langkah kaki umat dipanggil untuk saling menopang, merajut jaring kasih yang memastikan tak ada satu pun anak yang jatuh dalam pengabaian. Aksi Puasa Pembangunan (APP) pun selayaknya bersemi melampaui ‘ritus denting koin di dalam kotak derma’. Ia mesti menjelma menjadi gerakan yang menghidupkan napas pendampingan, menyalakan pelita katekese di meja makan keluarga, serta mengalirkan air kehidupan melalui pemenuhan gizi bagi raga yang mungil dan rapuh.

 

Sejatinya, Masa Prapaskah adalah ziarah batin untuk mengasah jemari kasih kita agar lebih peka menyentuh mereka yang paling kecil. Dengan merawat anak usia dini, kita sesungguhnya sedang menanam benih-benih peradaban di tanah hati, tempat di mana kasih, kejujuran, dan keadilan akan tumbuh menjadi pohon peneduh di masa depan. Sebagaimana wasiat Rasul Paulus yang abadi, mendidik anak dalam dekapan ajaran Tuhan adalah bentuk ‘investasi langit’, sebuah warisan yang tidak akan lekang oleh waktu, demi menjaga nyala api kemanusiaan agar tetap berpijar terang di tengah silsilah kehidupan.***



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)