Sebagai bentuk dedikasi nyata terhadap pelestarian literatur sejarah dan pengembangan teologi pastoral di wilayah Nusa Tenggara Timur, Unit Penerbitan STIPAR Press, dalam kerja sama dengan Paroki St. Yosef Raja, mengumumkan rencana peluncuran karya literasi monumental. Buku bertajuk "Menuju Gereja Persekutuan: Kenangan Satu Abad Paroki St. Yosef Raja" ini dipersiapkan sebagai dokumen sejarah sekaligus refleksi iman yang mendalam bagi umat Katolik, khususnya di wilayah Keuskupan Agung Ende.
Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, dalam sambutan resminya untuk buku ini, memberikan ulasan mendalam mengenai identitas unik umat Raja. Beliau menyoroti semboyan "We Are King" (Kita Adalah Raja) yang sering digaungkan oleh kaum muda setempat. Menurut Mgr. Budi, kebanggaan menjadi "Raja" bukanlah sebuah bentuk keangkuhan, melainkan sebuah kesadaran martabat bahwa setiap umat adalah pribadi yang berharga, dikasihi, dan ditebus oleh Tuhan. Kebanggaan ini berakar pada sejarah panjang selama seratus tahun, di mana Tuhan sebagai Sang Pemilik Waktu telah menunjukkan kesetiaan-Nya melalui suka dan duka, keberhasilan maupun air mata yang membentuk wajah paroki tertua di Kevikepan Mbay ini.
Namun, Mgr. Budi menekankan bahwa identitas "We Are King" harus selalu berdampingan dengan kesadaran sebagai "Children of Saint Joseph" (Anak-anak Santo Yosef). Beliau mengingatkan bahwa sebagaimana Santo Yosef yang melayani dalam diam, rendah hati, dan setia, umat Paroki Raja dipanggil untuk tetap berpijak di bumi. Spiritualitas ini diwujudkan secara nyata melalui keterlibatan umat dalam gerakan pastoral yang menyentuh akar rumput, seperti Gerakan KUB Peduli Ibu Hamil, KUB Ramah Anak, hingga kepedulian terhadap pendidikan anak usia dini. Bagi Mgr. Paulus, kerendahan hati adalah fondasi utama dari sikap saling mendengarkan, yang merupakan hakikat dari Gereja yang sinodal.
Kehadiran buku ini bukan tanpa alasan. Ia dirancang sebagai kado istimewa untuk memperingati perayaan yubileum satu abad (1926-2026) Paroki St. Yosef Raja. Sebagai paroki tertua di Kevikepan Mbay, perjalanan seratus tahun paroki ini merupakan cerminan dari evolusi iman di tanah Nagekeo. Melalui riset mendalam yang menggabungkan studi dokumen arsip dan wawancara lisan, karya ini berhasil merekonstruksi kembali jejak-jejak awal misi yang dipelopori oleh para misionaris Dominikan hingga masa keemasan pengabdian Serikat Sabda Allah (SVD) yang telah meletakkan fondasi kuat bagi pertumbuhan gereja lokal.
Bagi civitas akademika STIPAR Ende, buku ini memiliki nilai strategis. Ia tidak terbatas sebagai sebuah catatan pembangunan fisik atau infrastruktur gerejawi. Di dalamnya, para pembaca akan diajak menyelami refleksi teologis mengenai konsep ‘communio’ (persekutuan) yang dijalankan dalam naungan semangat Santo Yosef. Buku ini juga berfungsi sebagai arsip memori kolektif karena menghimpun berbagai kesaksian hidup dari para imam, biarawan-biarawati, serta tokoh umat awam. Kisah-kisah perjuangan mereka dalam menghadapi dinamika sosial dan budaya menjadi pelajaran berharga mengenai keteguhan iman yang relevan hingga saat ini.
Proses penyusunan naskah yang komprehensif ini digawangi oleh tim editor dan kontributor yang kompeten di bidangnya. Nama-nama seperti RD. Frederikus Dhedhu, Kristianus Djogo Wea, dan Hironimus Gesu, bersama rekan sejawat lainnya, bekerja keras untuk memastikan bahwa setiap narasi yang disajikan memiliki akurasi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Keterlibatan para pakar ini menjamin bahwa buku ini tidak hanya menjadi bacaan populer, tetapi juga referensi ilmiah bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah misi di Flores.
Pada akhirnya, penerbitan buku ini mengemban misi besar untuk menjadi "kompas" bagi generasi masa kini dan masa depan. Di tengah arus perubahan zaman yang semakin dinamis, nilai-nilai yang tertuang dalam sejarah Paroki St. Yosef Raja diharapkan mampu memotivasi umat untuk terus membangun Gereja yang injili, mandiri, solider, dan memiliki semangat misioner yang kuat. STIPAR Press berharap karya ini menjadi pemantik semangat bagi paroki-paroki lain untuk mulai mendokumentasikan sejarah mereka demi memperkaya khazanah literasi Gereja di Indonesia. (Florentina Ina Wai).
Tulis Komentar